Setan , Sang Pencipta Dan Hakekat Kehidupan

Evil (kedosaan, kejahatan) disini tidak ingin saya terjemahkan ke bahasa Indonesia karena ‘lari’ dari insight yg kutangkap. EVIL jelas berhubungan dengan DEVIL. Sementara bahasa plokotow terlalu lunak untuk memaafkan kejahatan dgn pelintiran sebagai kemaha-bisaan “Tuhan” sebagai ahli makar. Bahasa plokotow menutupi hubungan eratnya dengan si Setan.

Penghuni Alam Plokotow adalah mahluk sengsara yang percaya bahwa menyembah Tuhan artinya adalah menyebut2 nama Tuhan setiap saat pada setiap hal, termasuk saat meledakkan bom bunuh diri, kimpoy dengan para pelacur yg jadi sah sekedar karena secarik surat yg dibayarnya, saat korupsi sebagai menteri agama, saat mengatakan tidak mengapa maling asal sekuman, dsb. Penghulu Evil di Alam Plokotow senantiasa berusaha menghalangi ia untuk mendapat penerangan hikmat (wisdom). Penerangan bahwa yang dilakukannya semakin menjerumuskannya ke dalam sumur kegelapan tanpa dasar.

Jadi, saya pertanyakan inti dari makna Hidup atau diberi hidup sebagai manusia itu arti hakikinya apa? Apakah sekedar menjadi alat pemutar suara yg menyebut2 gabungan suku kata tertentu yg dianggapnya memuji sang Penciptanya….ataukah…. untuk mengusahakan semaksimal mungkin agar Cahaya Illahi yang tersembunyi (Ohr HaGanuz) itu tersibak dari kurungan cangkang ketebalan dagingnya itu untuk muncul ternyatakan bersinar terang mencerahkan dunia manusianya itu?

Bila hal kedua itu yg benar, lalu apakah mungkin dilaksanakan dengan batin yang bahlul, kurang wawasan, sempit cara pikir, terjerat kesibukan mengurusi yg remeh temeh, mental serba meminta, kemalasan yg eksistensial, impuls berdusta yg pathologis, tidak memiliki integritas dan dedikasi, hati yang jahat karena dangkal dalam memaknai segala sesuatunya?

Suatu ketika Allah Ta’ala memerintahkan kepada Bani Israil untuk memasuki Yerusalem, namun mereka menolak karena takut, sebab untuk memasuki Yerusalem, mereka harus terlebih dahulu meruntuhkan Benteng Jericho dan berperang dengan Bangsa Filistin yang tinggi besar.

Karena menolak berperang, maka Bani Israil pun dihukum terkatung-katung menjalani kehidupan di Padang Tih selama 40 tahun lamanya.

Manusia pun sama halnya. Banyak yang menolak untuk berperang dalam kehidupan untuk memerangi hawa nafsu dan syahwat.

Kebanyakan dari mereka menolak untuk menempuh jalan yang sukar, karena dirinya masih didominasi oleh ‘apa kata orang’, malu sama tetangga, takut sama si A dan si B. Singkatnya, sangat terpengaruh oleh pandangan manusia.

Sungguh itu semua adalah benteng dalam diri yang, jika tidak diruntuhkan, maka manusia tidak akan pernah memiliki qalb.

Akibat menolak ‘berperang’, akhirnya Allah membiarkan manusia terkatung-katung dalam kegalauan.

Rahayu!